Monday, 25 May 2015

masalah Jamur dan Mikotoksin pada Ransum| Print |
Ransum memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan dan produktivitas ternak. Bukan saja karena merupakan input biaya terbesar dalam menjalankan usaha peternakan, tetapi juga merupakan kebutuhan utama bagi ayam untuk menghasilkan produksi berupa daging dan telur. Oleh karena itu, ransum yang diberikan harus senantiasa terjaga kualitasnya, mulai dari pengadaan, penanganan, penyimpanan, sampai pada metode pemberiannya. Hal ini penting untuk diperhatikan sebab kualitas ransum yang buruk, kerap kali menimbulkan masalah pada ayam.
Sebenarnya banyak faktor yang berpengaruh pada kualitas ransum di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia, yang notabene beriklim panas dengan kelembaban yang tinggi serta mempunyai dua musim. Kondisi tersebut merupakan zona yang ideal bagi pertumbuhan jamur, yang dapat menyerang ransum maupun bahan baku ransum. Hal ini tentunya berimbas pada penurunan kualitas nutrisi serta penurunan produktivitas ayam.

Pengaruh Kualitas Ransum terhadap Pertumbuhan Jamur
Daya tahan dan daya simpan ransum dan bahan baku ransum sangat tergantung pada kadar air yang terkandung di dalamnya. Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan angka ideal kadar air dalam ransum ternak tidak melebihi 14%. Meskipun demikian, sebagai antisipasi dan langkah aman, sebagian pabrik pakan menerapkan standar lebih baik dengan mematok kadar air di kisaran 10–12%.
Meskipun kadar air ransum yang berasal dari pabrikan atau bahan baku ransum dari supplier sudah memenuhi standar, tidak menjamin bahwa ransum yang akan diberikan pada ayam akan tetap baik kualitasnya. Penyimpanan ransum dalam gudang yang lembab dipastikan akan menyebabkan ransum rusak dalam waktu 2-3 hari saja. Yang paling umum muncul di daerah tropis dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia adalah tumbuhnya jamur. Kontaminasi jamur menjadi masalah tersendiri karena jamur ini memproduksi racun yang biasa dikenal dengan mikotoksin.
Jamur Aspergillus flavus penghasil aflatoksin (a); bahan pakan terkontaminasi jamur (b)

Pemberian ransum yang terkontaminasi mikotoksin pada ayam akan menimbulkan gangguan kesehatan serius (mikotoksikosis) berupa gejala keracunan, sampai kematian. Kasus yang banyak terjadi di lapangan, meski tidak menimbulkan kematian tetapi kejadiannya signifikan menekan produksi ayam. Peternak harus menderita kerugian akibat penanganan ransum yang tidak tepat. Dan kasus mikotoksikosis masih menjadi salah satu kasus penting di peternakan Indonesia.

Mikotoksin dan Mikotoksikosis
Mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh spesies kapang/jamur tertentu pada bahan pangan maupun ransum (Fox dan Cameron, 1989). Mikotoksin mulai dikenal sejak ditemukannya aflatoksin yang menyebabkan Turkey X-disease pada tahun 1960. Hingga saat ini telah dikenal 300 jenis mikotoksin, lima jenis diantaranya sangat berpotensi menyebabkan penyakit pada ayam, yaitu aflatoksin, ochratoxin A, zearalenon, trichothecenes (deoksinivalenol, toksin T2) dan fumonisin. Menurut Bhat dan Miller (1977), sekitar 25-50% komoditas pertanian tercemar kelima jenis mikotoksin tersebut. Ayam yang mengkonsumsi ransum mengandung racun mikotoksin akan mengalami penyakit yang disebut dengan mikotoksikosis.
Di negara tropis seperti Indonesia, kontaminasi mikotoksin sangat sulit untuk dihindari karena kondisi iklim dengan tingkat kelembaban, curah hujan dan suhu yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan jamur penghasil mikotoksin. Indonesia beresiko tinggi terhadap ancaman mikotoksin karena metabolit sekunder jamur ini diproduksi pada kondisi lingkungan yang lembab (kelembaban di atas 70%) dan suhu antara 4-40°C (optimal 25-32°C). Selain itu, bahan pakan dengan kadar air di atas 15% dan banyaknya porsi broken seed (biji pecah) sangat potensial untuk ditumbuhi jamur (Reddy dan Waliyar, 2008). Mikotoksin akan semakin banyak diproduksi oleh jamur jika terjadi perubahan suhu, pH dan kelembaban secara mendadak. Mikotoksin juga memiliki sifat kimiawi yang sangat stabil. Bahkan terhadap perlakuan panas, penyimpanan dan sama sekali tidak terdegradasi saat memproses ransum.
  • Faktor yang mempengaruhi cemaran mikotoksin
    Keberadaan mikotoksin pada ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor (Dharmaputra 2004), antara lain:
  1. Faktor biologi yaitu biji-bijian yang telah tercemar jamur penghasil toksin
  2. Faktor lingkungan, meliputi suhu, kelembaban dan kerusakan biji oleh serangga
  3. Pemanenan, termasuk tingkat kemasakan biji, suhu, kelembaban, pendeteksian dan pemipilan biji
  4. Penyimpanan, antara lain suhu dan kelembaban ruang simpan, pendeteksian dan pemisahan biji yang tercemar
  5. Pemrosesan seperti pengeringan dan sortasi biji
  • Mekanisme pencemaran jamur dan mikotoksin
    Bahan baku ransum, terutama jagung biasanya disimpan dahulu sebelum digunakan untuk menyusun ransum. Umumnya bahan baku tersebut disimpan dalam gudang dengan kondisi kelembaban tinggi sehingga berpotensi tercemar jamur dan mikotoksin yang dihasilkan. Proses pencemaran jamur pada bahan baku ransum, terutama jagung, dimulai saat spora (konidia) jamur beterbangan di udara terbawa oleh angin dan serangga, kemudian menempel secara langsung atau tidak langsung pada tanaman jagung. Bila suhu dan kelembaban sesuai maka jamur akan tumbuh dan berkembang biak pada tanaman jagung yang masih ada di lapangan. Ketika jagung dipanen, jamur dan mikotoksin yang dihasilkan sudah menginfeksi hasil panen. Spora jamur sebagian juga beterbangan di udara dan menjadi sumber infeksi selanjutnya (Cotty dan Jaime-Garcia 2007; Reddy dan Waliyar 2008).

Identifikasi Mikotoksin
Dari bermacam jenis mikotoksin, aflatoksin merupakan salah satu yang paling banyak dibicarakan di Indonesia. Tabel 1 menunjukkan beberapa mikotoksin yang relatif sering dijumpai. Mikotoksin dapat muncul disepanjang alur pengadaan ransum, mulai dari penanaman, panen sampai penyimpanan. Bisa jadi sebelum bahan baku ransum dipanen, sudah terkontaminasi mikotoksin.
Fusarium, penghasil mikotoksin jenis zaeralenone, trichothecenes, fumonisin, merupakan contoh jamur yang paling sering mengkontaminasi selama masa penanaman. Sedangkan jamur yang sering mengkontaminasi selama di gudang penyimpanan ialah Aspergillus dan Penicillium yang menghasilkan aflatoksin dan ochratoxin. Pada umumnya dalam keadaan normal, jamur-jamur tersebut hidup secara saprofit (menumpang pada inang tetapi tidak mengambil makanan dari inang tersebut). Akan tetapi, jika keadaan lingkungan sekitarnya berubah menjadi ideal yaitu suhu udara baik, kelembaban cukup tinggi dan ada substrat yang cocok untuk ditumpangi, maka jamur tersebut akan tumbuh subur dan memproduksi mikotoksin.
Berdasarkan data survei mikotoksin di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam) pada 2009, menunjukkan bahwa aflatoksin B1 dan fumonisin paling sering ditemukan mengkontaminasi bahan baku ransum (jagung, gandum, bekatul, bungkil kedelai, corn gluten meal, DDGS) maupun ransum jadi dengan persentase sampel positif mencapai 52% dan 58%. Inilah yang menjawab pernyataan kenapa aflatoksin paling familiar di peternak kita.
Cukup sulit untuk mendeteksi keberadaan berbagai macam mikotoksin secara cepat (rapid test kit) dalam ransum karena mikotoksin telah berikatan sebelumnya dengan glukosa, gula atau asam-asam lemak pada bahan baku ransum. Dengan analisa di laboratorium dapat menginformasikan apakah bahan baku ransum mengandung mikotoksin atau tidak. Beberapa metode uji yang dapat digunakan untuk mendeteksi mikotoksin ialah metode kromatografi (TLC/thin liqiud chromatography), spektrometri dan teknik antibodi monoklonal (Tabbu, 2002).

Bahaya Mikotoksin, Menekan Produksi dan Menurunkan Kekebalan
Berdasarkan SNI, level mikotoksin (aflatoksin,red) yang dapat ditolerir adalah 50 ppb. Meski demikian, penerapan zero tolerance (kadar aflatoksin nol) dalam ransum merupakan jalan terbaik karena kadar mikotoksin dalam kadar sangat kecil saja dapat menyebabkan penurunan performa, baik pada ayam pedaging maupun petelur.

Tabel 2. Kadar Aflatoksin dalam Persyaratan Mutu Bahan Baku Ransum
Ket : *Corn Gluten Meal
Sumber : Dirjen Peternakan dalam Trobos (2010)

Ayam pedaging yang mengkonsumsi ransum terkontaminasi mikotoksin terbukti pertumbuhannya terhambat. Hal ini pernah dibuktikan dengan percobaan yang dilakukan oleh Jones et al. (1982) pada tabel 3. Terlihat semakin besar konsentrasi aflatoksin, pertumbuhan ayam menjadi terhambat.
Tabel 3. Pengaruh Aflatoksin terhadap Performa Ayam Pedaging
Sumber : Jones et al. (1982)

Begitu pula pada ayam petelur. Adanya kontaminasi mikotoksin akan mengakibatkan penurunan produksi telur, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Aflatoksin berefek dalam menghambat proses pematangan sel telur sehingga jumlah produksi telur menurun. Kasus “blood spot” juga dapat dipicu oleh aflatoksin. Adanya aflatoksin mengakibatkan penurunan kadar protein serum, lipoprotein dan karotenoid. Akibatnya pembentukan protrombin dan proses koagulasi terganggu. Kondisi ini sangat berpotensi menyebabkan hemorrhage (perdarahan). Selain itu, aflatoksin bisa pula menghambat proses konversi vitamin Dyang terkandung dalam ransum menjadi bentuk aktif sehingga proses metabolisme kalsium dan fosfor dalam tubuh ayam terganggu. Dampaknya kualitas kerabang telur akan menurun.
Kasus blood spot karena aflatoksin
(Sumber : WAAT Poultry)
Kematian akibat mikotoksin juga bisa terjadi. Hal ini seringkali disebabkan oleh rusaknya berbagai organ vital ayam, seperti paru-paru, kantung udara, hati maupun ginjal. Secara umum, adanya mikotoksin ini akan mengganggu proses pembentukan protein. Kondisi tersebut menimbulkan efek immunosuppressive (penurunan antibodi), dimana kita ketahui bahwa dalam pembentukan antibodi diperlukan ketersediaan protein yang tinggi. Akibatnya gangguan pembentukan protein akan menurunkan jumlah antibodi yang terbentuk. Menurunnya sistem kekebalan tubuh ayam membuat ayam menjadi lemah (mudah terinfeksi penyakit) dan pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi menjadi kurang optimal. Mikotoksikosis juga dapat menyebabkan penurunan daya kerja penyerapan nutrisi di dalam usus halus sehingga menurunkan nilai efisiensi pakan.

Waspadai Gejala Mikotoksikosis
Efek tidak langsung dari mikotoksin kadang kala tidak diketahui oleh peternak secara pasti sehingga kerugian dari segi efisiensi ransum menjadi cukup besar, misalnya terjadi peningkatan nilai FCR secara tiba-tiba. Efek toksisitas (keracunan) mikotoksin tersebut tergantung dari intensitas dan waktu intoksifikasi (penyebaran racun) serta bersifat akumulatif. Peternak hendaknya patut curiga bila sering menemui ayamnya menunjukkan gejala serangan mikotoksikosis. Diantaranya adalah muntah, diare, luka pada rongga mulut, nafsu makan menurun serta pertumbuhan lambat dan tidak merata.
Ventrikulus mengalami erosi akibat aflatoksin 
(Sumber : partnersah.vet.cornell.edu)

Hati pucat dan rapuh akibat aflatoksi
(Sumber : partnersah.vet.cornell.edu)

Infeksi aflatoksin kronis, terdapat bintik-bintik putih pada hati
(Sumber : Dok. Medion)

Apabila dilakukan bedah bangkai banyak ditemukan peradangan pada saluran pencernaan dan pernapasannya, seperti bintik-bintik putih pada paru-paru, ukuran bursa Fabrisius mengecil dan ginjal bengkak serta pucat. Pada kasus keracunan aflatoksin akut, bisa ditemukan hati membesar dengan kondisi berwarna pucat dan rapuh, sedangkan pada kasus kronis bisa ditemukan bintik-bintik putih pada hati. Untuk kasus infeksi jamurFusarium sp., ditemukan adanya ventrikulus yang mengalami erosi. Untuk lebih tepat mendeteksi infeksi jamur tersebut, harus dilakukan pengambilan sampel dan deteksi langsung.
Bintik-bintik putih pada paru-paru karena serangan Aspergillus sp.
(Sumber : www.poultrysite.com)
Ginjal bengkak dan pucat
(Sumber : 
www.poultrysite.com)
Ukuran bursa Fabrisius lebih kecil (b) akibat aflatoksin dibandingkan normal (a)
(Sumber : Anonimous)


Tindakan Pencegahan dan Menghadapi Mikotoksikosis
Kerugian yang besar akibat kontaminasi mikotoksin ini memaksa kita melakukan berbagai upaya untuk mencegahnya. Idealnya, pencegahan timbulnya mikotoksin sudah dilakukan saat fase pertumbuhan tanaman. Namun kita sebagai peternak sulit untuk mengaplikasikan. Lantas apa saja yang bisa dilakukan oleh peternak?
Saat jamur telah tumbuh pada bahan baku ransum maka bisa dipastikan mikotoksin telah terbentuk. Dan lagi, untuk membasmi jamur sangatlah mudah, misalnya dengan pemanasan, namun tidak demikian dengan mikotoksin yang memerlukan treatment yang lebih banyak, baik perlakuan fisik, kimia maupun biologi, sehingga kurang efisien.
Beberapa langkah pencegahan yang bisa kita lakukan ialah :
  • Kontrol lama penyimpanan ransum
    Daya simpan ransum ayam di dalam gudang adalah 21-30 hari sejak tanggal produksi (batch). Baik ransum bentuk crumble (butiran), pellet maupun mash (tepung), akan mengalami penurunan kualitas apabila melewati masa tersebut. Karena itu disarankan, idealnya peternak tidak menyimpan ransum lebih dari 14 hari atau 2 minggu sebagai antisipasi. Saran ideal ini mempertimbangkan, sebelum diterima peternak, ransum sempat mampir di gudang agen atau poultry shop (PS) terlebih dahulu. Menurut Goh (2010), selama proses penyimpanan, kualitas ransum dan bahan baku ransum akan terus menurun. Kecepatan penurunan kualitas ini akan 10 kali lebih cepat pada kondisi iklim tropis. Sebagai contoh, dari data penelitian diperoleh informasi bahwa jagung di berbagai wilayah Jawa pada 2008 dengan kadar air 16%, rata-rata kadar aflatoksinnya hanya 18,7 ppb. Namun setelah di tingkat pengepul (PS), kadarnya meningkat pesat menjadi 139,8 ppb (Trobos, 2010).
  • Atur manajemen penyimpanan bahan baku ransum
    Berikan alas (pallet) pada tumpukan bahan baku dan atur posisi penyimpanan sesuai dengan waktu kedatangannya (first in first out, FIFO). Untuk layout gudang peyimpanan, berikan jarak antar tumpukan ransum agar sistem FIFO bisa berjalan. Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Temperatur berkisar antara 300-340C, kelembaban tidak lebih dari 70% (Toto, 2011). Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur.
Penggunaan pallet pada alas ransum
(Sumber : selfmixing.blogspot.com)

Menurut Toto (2011), beberapa tindakan lain dalam manajemen penyimpanan ransum yang baik antara lain ransum yang disimpan harus terhindar dari sinar matahari langsung, terhindar dari hujan dan bocor, tidak bercampur dengan bahan kimia seperti pupuk, pestisida dan racun tikus. Memiliki catatan stok yang rapi dan cukup jarak antara dinding terhadap tumpukan (atau antar tumpukan)
  • Melakukan pemeriksaan kualitas secara rutin
    Lakukan pemeriksaan kualitas bahan baku secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau ransum. Hendaknya kita tidak segan untuk me-reject jika ditemukan ransum yang terkontaminasi jamur, mengingat fenomena jamur ini seperti fenomena gunung es. Pengamatan secara visual terhadap bahan baku ransum hanya bisa dilakukan sebatas pengamatan terhadap jamur, bukan pada mikotoksinnya. Karena hal itu membutuhkan analisa kandungan mikotoksin dalam setiap bahan baku ransum yang digunakan. Perlu dilakukan pengujian laboratorium lebih lanjut. Alasannya, ketika bahan baku ransum sudah terkontaminasi jamur, besar kemungkinan tidak hanya memproduksi satu jenis toksin tetapi bisa lebih dari satu. Kalau ini terjadi, meski kandungan mikotoksin rendah tetapi karena terdapat beberapa jenis mikotoksin, maka akan memberikan dampak akumulasi dari kumpulan beberapa toksin tersebut. Dampaknya bisa sama parahnya dengan satu jenis mikotoksin yang terdapat dalam bahan baku ransum dalam jumlah besar. Selain itu, pastikan kadar airnya tidak terlalu tinggi (< 14%) sehingga bisa menekan pertumbuhan jamur
  • Jika menggunakan mixer untuk mencampur ransum, bersihkan alat tersebut secara rutin, misalnya 2-3 hari sekali. Sisa ransum, terutama yang berupa serbuk yang terdapat pada kedua alat itu akan menjadi sumber kontaminasi jamur pada bahan baku ransum lainnya
  • Berikan bahan penghambat jamur
    Saat kondisi cuaca tidak baik, terutama musim penghujan, tambahkan mold inhibitors (penghambat pertumbuhan jamur), seperti asam organik atau garam dari asam organik tersebut. Asam propionat merupakan mold inhibitors yang sering digunakan

Saat jamur dan mikotoksin telah ditemukan mengkontaminasi ransum dan ayam sudah terlanjur keracunan mikotoksin, beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menekan efek mikotoksin ini antara lain :
  • Membuang ransum yang terkontaminasi jamur dengan konsentrasi tinggi, mengingat mikotoksin ini sifatnya sangat stabil
  • Jika yang terkontaminasi sedikit, bisa dilakukan pencampuran dengan bahan baku atau ransum yang belum terkontaminasi. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan konsentrasi mikotoksin. Namun yang perlu diperhatikan ialah bahan baku ini hendaknya segera diberikan ke ayam agar konsentrasi mikotoksin tidak meningkat
  • Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin) pada ransum, seperti zeolit, bentonit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) atau ekstrak dinding sel jamur. Antioksidan, seperti butyrated hidroxy toluene (BHT), vitamin E dan selenium juga bisa ditambahkan untuk mengurangi efek mikotoksin, terutama aflatoksin, DON dan T-2 toxin
  • Manipulasi kandungan nutrisi ransum juga dapat dilakukan untuk mengurangi efek mikotoksin, terlebih lagi nutrisi yang dibutuhkan jamur untuk pertumbuhan diambil dari nutrisi ransum. Selain itu ada beberapa mikotoksin yang bisa mengurangi penyerapan beberapa zat nutrisi. Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan penilalanin) maupun meningkatkan kadar protein dan lemak dalam ransum juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin. Pemberian multivitamin dosis tinggi seperti Fortevit bisa menjadi solusi

Persoalan terkait jamur dan mikotoksin yang mencemari ransum ayam memang bukan sesuatu hal yang sepele. Sedikit saja ransum tercemar, maka peternak akan merugi karena ransum memegang biaya produksi tertinggi pada usaha peternakan. Maka, kunci pencegahan utama untuk menghindari kejadian tersebut terletak pada penerapan manajemen peyimpanan ransum yang baik. Salam.


Penyakit yang sering muncul dan menyerang ayam pada musim penghujan ialah masalah serangan penyakit akibat jamur.
Pada musim penghujantingkat kelembaban litter ataupun bagian alas kandanglingkungan kandang serta gudang penyimpanan pakan atau bahan baku pakan seharusnya merupakan hal yang sangat perlu menjadi perhatianKomponen-komponen tersebut acapkali menjadi penyebab dari masalah serangan infeksi penyakit di musim penghujan iniPenyakit akibat jamur sering merupakan suatu ancaman yang menakutkan di kalangan peternak pada musim penghujan.
Gudang penyimpanan pakan atau kandang yang bocor seringkali membuat pakan basah akibat terkena air hujantatalaksana atau cara penyimpanan pakan yang salah (meletakkan pakan langsung pada lantai tanpa menggunakan palletataupun menyimpan/membeli jagung yang masih mempunyai kadar air yang tinggi tanpa melalui pengeringan terlebih dahulu seringkali menjadi malapetaka penyebab terjadinya kasus penyakit yang disebabkan oleh jamurBerikut akan dijelaskan secara singkat mengenai beberapa penyakit yang diakibatkan oleh jamursemoga tulisan ini dapat membantu para peternak untuk mencegah atau mengobati infeksi penyakit yang disebabkan oleh jamurBeberapa penyakit yang diderita oleh ayambaik itu ayam pedaging (broilermaupun ayam petelur (layerdisebabkan oleh jamur atau kapang di antaranya adalah :
1.     THRUSH (CandidiasisMoniliasis, Sour Crop)
Penyakit yang disebabkan oleh jamur Candida Albicans ini menyerang saluran pencernaan unggasCiri khas yang dapat terlihat apabila terkena infeksi thrush adalah penebalan dan terbentuk plak putih pada mukosa khususnya pada tembolokpembentukan plak putih ini juga dapat terjadi pada proventrikulus(sering disebut dengan gizzard erotion atau keropeng ampela), usus dan kloakaThrush memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang rendah.
Pertama kali jamur Candida akan menginfeksi bagian mulut dari unggasBiasanya hal ini disebabkan karena stress dan gizi yang jelekGejala klinis pada awal terjadinya infeksi berupa penurunan nafsu makanayam terlihat lesuterjadi gangguan pada pertumbuhan dan ayam mengalami diare.Penampakan lain yang juga tak kalah pentingnya dalam mengidentifikasi thrush ini adalah kondisi bulu di sekitar kloaka yang kotorhal ini dapat disebabkan karena adanya peradangan pada kloaka sehingga pengeluaran feses menjadi terganggu mengakibatkan banyaknya feses yang menempel pada bulu.Apabila dilakukan bedah bangkai (nekropsimaka lesio yang dapat ditemukan adalah adanya plak putih dalam mulutesophagustemboloklambung kelenjar dan usus.
Pengobatan yang dapat dilakukan apabila mengalami thrush adalah dengan menggunakan Nystatin (100ppm dalam campuran pakan) selama 7-10 day, kupri sulfat (1 kg/ton pakan) selama 5 hari atau kupri sulfat 1gr/2 liter air minum selama 3 hari pemberianPencegahan yang dapat dilakukan dengan cara memastikan tingkat higienis yang baikKontrol Candida melalui air minum yang bersih kadang merupakan pencegahan yang praktisDalam hal inithrush tidak ditularkan melalui ayam per ayam sehingga untuk pencegahan Candidiasis ditingkat peternak agak lebih mudah yakni cukup memperketat sanitasi lingkungan kandang dan ternaknya serta menjaga agar pakan tetap dalam keadaan baik.


AYAM SAKIT KARENA JAMUR 
Salah satu penyakit yang diderita oleh ayam, baik itu ayam bibit, pedaging (Broiler) maupun petelur (layer) disebabkan oleh jamur atau kapang. Penyakit tersebut diantaranya adalah :
  1. THRUSH (Candidiasis, Moniliasis, Sour Crop)
Penyakit ini menyerang pada saluran pencernaan unggas dengan karakteristik penebalan dan plak putih pada mukosa khususnya pada tembolok, bisa juga pada proventrikulus, usus, dan kloaka yang berhubungan dengan keropeng ampela/gizzard erotion.
Penyebabnya adalah jamur Candida Albicans, dengan angka kematian dan kesakitan yang diderita rendah.
Penyakit ini bermula pada oral/mulut unggas, yang terjadi akibat penyakit ini adalah stress dan gizi yang jelek, dengan gejala klinis berupa nafsu makan menurun, ayam lesu, gangguan pada pertumbuhan dan diare. Lesio Post Mortum yang sering ditemukan adalah terdapatnya plak putih dalam mulut, esophagus, tembolok, lambung kelenjar dan usus.
Pengobatan menggunakan Nystatin (100 ppm dalam campuran pakan) selama 7-10 hari, cupri sulfat (1 kg/ton pakan) selama 5 hari atau kupri sulfat 1gr/2 liter air minum selama 3 hari pemberian
Pencegahan dengan menghindari penggunaan antibotik secara berlebihan dan stressor lainnya, dengan memastikan tingkat higienis yang baik. Kontrol Candida melalui pengobatan air minum kadang merupakan pencegahan yang praktis dengan pemberian disinfektan.
  1. Aspergillosis (Brooder Pneumonia)
Penyakit ini menyerang pada ayam muda dengan memiliki kasus kematian yang tinggi, sedangkan ayam dewasa dalam bentuk yang kronis, penyebabnya adalah jamur yang bernamaAspergillosis Fumigatus berbentuk organisme yang hidup dilingkungan peternakan, terutama pada litter dan pakan ternak yang lembab atau bahkan pada kayu atau material yang lembab.
Penyebaran penyakit ini terjadi apabila terjadi kontak antara unggas dengan material yang telah terkontaminasi. Penyakit ini bukan merupakan penyakit infeksius atau penularan dari ayam ke ayam lainnya. Jamur ini memproduksi lesi seperti area nodul yang keras pada paru-paru dan sekaligus menginfeksi kantung hawa, dengan bentuk seperti terkena infeksi sinus (sinusitis) atau chronic Respiratory Disease (CRD). Jamur ini juga dapat menginfeksi induk semangnya langsung atau ditumbuhkan pada materi ransum tertentu, untuk dapat berkembang jamur memerlukan suhu kelembaban 15-20% dengan kelembaban relatif 80-85% pada suhu 36,2-37,8 0C. Oleh karena itu untuk mencegah tumbuhnya jamur suhu ditetapkan pada 4,5 0C sedangkan pemusnahannya pada suhu 71-100 0C
Gejala yang terjadi akibat penyakit ini pada ayam muda (akut) nampak megap-megap, mengantuk, tidak bergairah, malas, bulu berdiri, dan bergerombol, rasa haus yang meningkat, kerdil dan kadang terjadi kejang dan mati hal ini karena jamur menyebar ke otak dan menyebabkan kelumpuhan atau menimbulkan gejala serangan saraf. Sedangkan untuk ayam dewasa (kronis) nampak kehilangan nafsu makan, bersin, batuk, dan menjadi kurus, anemia, feses berwarna kuning, ngorok (mendengkur), menciap dan paruh terbuka, jengger menjadi gelap dan mengkerut, pial berwarna kebiruan. Pada saat jamur berhasil menyerang induk semang akan terjadi radang, kematian jaringan dan pembentukan nodula berupa tuberkelNodula dapat sebesar kacang hijau dan ditemukan di paru-paru, trachea, bronki, kantung udara, peritoneum dan alat-alat lain di rongga perut.
Penularan jamur terjadi dari ayam sakit ke ayam sehat melalui spora di udara, debu dan ransum yang masuk ke dalam tubuh ayam sehat. Aspergillosis juga dapat ditularkan melalui telur (egg borne aspergillosis) dengan masuk melalui kerabang telur selama proses inkubasi sehingga anak yang baru menetas telah terinfeksi.
Pencegahan penyakit biasanya dengan mencegah penggunaan litter, pakan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ayam terhindar dari kontaminasi jamur. Obat yang efektif untuk memberantas jamur adalah pemberian fungistat (mikostatin, Na atau Ca propionat, gentian violet) bersama dengan ransum. Namun jika ayam sudah terserang jamur dianjurkan untuk dimusnahkan.
  1. Mycotoxicosis
Jamur ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh jamur (mycotoxin) dapat tumbuh pada litter dan pakan, organic yang membusuk, biji-bijian, kacang-kacangan. Kontaminasi jamur dapat terjadi saat panen, selama transportasi, dan penyimpan pakan dan jika jamur terdapat toxin/racun termakan oleh unggas dapat menyebabkan kematian. Toxin yang dikeluarkan berasal dari metabolit. Metabolit jamur itu merupakan toxin yang sangat kuat bahkan ada yang menyejajarkannya dengan racun botulinum.
Beberapa tipe jamur menghasilkan toxin yang menyebabkan masalah pada peternakan, dan yang perlu diperhatikan pada industri peternakan adalah toxin yang dihasilkan oleh jamur. Diantaranya Racun yang berbahaya adalah Aflatoxin, Ochratoxin, Trichothecen, Zearalenone dan Citirinin
  1. Aflatoxicosis
Aspergillus flavus yang menghasilkan toxin bernama aflatoxinAspergillus flavus adalah jamur yang biasanya tumbuh pada beberapa media diantaranya biji-bijian dan kacang-kacangan. Saat ini diketahui ada 4 jenis aflatoxin yang sangat berpengaruh pada peternakan yaitu aflatoxin B1 (toxin yang paling kuat), B2, G1 dan G2. Beberapa aflatoxin menyebabkan kematian, pertumbuhan terhambat, penurunan produksi telur, penurunan daya tetas, dan menyebabkan immunosupresif.
Jamur aflatoxin dapat berada dipakan yaitu pada saat sebelum dan sesudah panen bahan baku (biji-bijian dan kacang-kacangan) selama penyimpanan dan transportasi pakan serta penyimpanan di gudang. Suhu tinggi, kelembaban, dan curah hujan yang tinggi merupakan factor kondusif bertumbuhnya jamur. Untuk mencegah tumbuhnya jamur pada bahan baku diharapkan penyimpanan pada 8-12 %
Akibat yang ditimbulkan dari aflatoxin adalah merusak kelenjar hati yang merupakan organ pembantu alat pencernaan dan bersifat immunosuppressan, sedangkan akibat lainnya adalah menurunnya performa produksi, terlambat pertumbuhan, dan menurunnya kualitas karkas, menurunnya selera makan yang berimbas pada kurangnya nutrisi pada ayam tersebut. Selain itu jika ayam tersebut dilaksanakan pembedahan dapat dilihat pembesaran, kepucatan, rapuh dan adanya peningkatan perlemakan pada hati, pembesaran ginjal dan limpa, pengecilan/atrofi dari jaringan limfoid seperti bursa fabrisius dan timus, serta pembesaran kelenjar empedu
  1. Ochratoxin
Ochratoxin dihasilkan oleh jamur Aspergillus ocharceceous dan jamur Penicillium viridicatum. Jamur ini menghasilkan racun pada kadar kelembaban relatif dan suhu yang cukup tinggi sedangkan Penicillium menghasilkan ochratoxin pada suhu yang lebih rendah bahkan suhu 5 0C
Gejala yang terjadi adalah untuk ayamm akut akan meningkatkan kematian, nafsu makan turun, konversi ransum jelek dan pertumbuhan berat badan terhambat, lesu, ayam nampak membungkuk, diare, gemetar dan gangguan saraf lainnya
Perubahan patologi anatomi ditemukan hati membesar, warna pucat disertai perdarahan, ginjal pucat dan peradangan usus.
  1. Trichothecen
Kelompok mycotoxin ini dihasilkan oleh Fusarium gramimenearum.
Gejala yang terjadi adalah pertumbuhan terhambat, depresi dan diare berdarah. Necrosa mukosa mulut merupakan gejala yang paling sering terjadi. Luka pada mulut berwarna putih sampai krem, borok biasanya terlihat pada tepi lidah dan sepanjang sisi dalam bagian atas dan bawah paruh.
Perubahan patologi terlihat mukosa gastrointestinal kemerah-merahan, hati bengkak dan berisi getah empedu berwarna burik, limpa mengecil dengan perdarahan visceral.
  1. Zearalenone
Dihasilkan oleh Fusarium graminearum dan F. roseum yang dapat mempengaruhi aktifitas hormon estrogen. Dampak yang terjadi adalah penurunan puncak produksi, namun tidak berpengaruh terhadap kesuburan dan daya tetas telur. Gejala umum yang terjadi adalahascites, kista oviduk, dan penggelembungan oviduk dengan material fibrinous.
  1. Citrinin
Dihasilkan oleh Penicillium Citrinum dan bersifat nephrotoksik. Unggas yang terserang akan minum secara berlebihan sehingga diare. Gejala tersebut akan hilang apabila ransum diganti dengan waktu penyembuhan 8-10 jam. Citrinin tidak mempengaruhi kekebalan seluler dan humoral.
Penularan dapat terjadi apabila unggas mengkonsumsi ransum atau litter yang terkontaminasi mycotoxin.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghambat tumbuhnya jamur dengan pengeringan bahan baku ransum pada kadar air maksimal 12% dan kelembaban maksimal 65%, selain itu pada bahan baku ransum, tempat makan dan minum dicuci dan di rendam dengan desinfektan yang mengandung senyawa iodine. Unggas yang telah terserang jamur ini tidak dapat disembuhkan oleh karena itu solusinya dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan pemberian asam amino berikatan dengan belerang, vitamin B, vitamin E, selenium antioksidan.

1 comment:

  1. The TOTO 3Ti Titanium Cross Necklace - Titsanium.com
    The TOTO 3Ti Titanium titanium pans cross necklace titanium engine block has an elegant appearance. Features titanium pan the distinctive design and features unique design titanium rainbow quartz that used ford fusion titanium can provide

    ReplyDelete